Adab Kepada Allah

Adab Kepada Allah

70
0
BERBAGI

Baik dan buruk adalah takdir Allah, Dia yang menciptakan, menulis dan menghendaki, tidak ada satu pun peristiwa kecuali Allah mengetahuinya sebelumnya dan saat ia terjadi.

 

قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ [النساء : 78[

Katakanlah semuanya dari sisi Allah.” An-Nisa`: 78.

Walaupun keburukan adalah dengan takdir Allah, namun tuntutan adab dan sopan santun kepada Allah adalah tidak menyandarkannya secara langsung kepada Allah. “Wa asy-syarru laisa ilai-Ka. Dan keburukan tidak disandarkan kepadaMu.” Demikian dalam sebuah hadits.

Allah berfirman menyebutkan perkatan KhalilNya Ibrahim,

 

الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ (78) وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ (79) وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (80) [الشعراء : 78 – 80[

 

“Dialah yang menciptakanku lalu Dia membimbingku. Dialah yang memberiku makan dan minum. Bila aku sakit maka Dialah yang menyembuhkan.” Asy-Syu’ara`: 78-80.

Ibrahim menyandarkan mencipta, membimbing, memberi makan dan minum kepada Allah secara langsung, namun saat dia menyebutkan sakit, dia tidak menyandarkannya kepada Allah tetapi kepada dirinya, “Bila aku sakit.” Lalu dia kembali menyandarkan kesembuhan kepada Allah.

Ayyub berkata,

أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ [الأنبياء : 83[

 

“Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara para penyayang.” Al-Anbiya`: 83. Ayyub sakit selama 18 tahun, orang-orang dekatnya meninggalkannya, dia sabar, dia mengadu kepada Allah tetapi tidak menyandarkan sakitnya kepadaNya, dia berkata, “Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit.”

Para jin berkata,

وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشَرٌّ أُرِيدَ بِمَنْ فِي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا [الجن : 10[

“Dan sesungguhnya kami tidak mengetahui apakah keburukan yang dikehendaki bagi orang-orang yang ada di bumi atau Tuhan mereka menghendaki kebaikan bagi mereka.” Al-Jin: 10. Mereka menyamarkan pelaku untuk keburukan dengan berkata, “Apakah keburukan yang dikehendaki.” Sebaliknya untuk kebaikan, mereka berkata, “Atau Tuhan mereka menghendaki kebaikan.”

Allah berfirman,

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (2) [الفلق : 1 ، 2[

“Katakanlah aku berlindung kepada Tuhan Penguasa subuh dari keburukan makhlukNya.” Menyandarkan keburukan kepada makhluk, bukan kepada Khalik.

Tidak menisbatkan keburukan kepada Allah secara langsung, walaupun Allah adalah pencipta dan pentakdirnya adalah sebuah adab bagi makhluk kepada penciptaNya, karena apa yang datang dari Allah adalah kebaikan walaupun sepintas, apa yang nampak adalah keburukan, Allah Mahabijaksana, mentakdirkan keburukan karena dibaliknya ada kebaikan yang mungkin bisa kita ketahui setelahnya ataupun tidak kita ketahui, kembali kepada kita, maukah kita memetik kebaikan tersebut?