Ember Cerai

Ember Cerai

355
0
BERBAGI

Ember biasa diistilahkan untuk mulut seseorang yang tidak terkontrol.

Ember cerai, berarti mulut seseorang yang gampang melontarkan kata – kata cerai.

Kata cerai adalah sebuah kata yang jelas menunjukkan makna talak. Jika seorang suami melontarkan kata tersebut kepada istrinya, maka ada hukum talak yang ikut jatuh bersamanya.

Maka seyogyanya bagi seorang suami untuk lebih berkepala dingin daripada istrinya, karena seorang suami merupakan lelaki yang lebih sempurna akalnya daripada wanita.

Walaupun dalam keadaan marah sekalipun, seorang suami harus sadar bahwa melontarkan kata cerai memiliki konsekuensi yang tidak ringan.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

«ثلاث جِدُّهن جِدٌّ، وهزلهن جِدٌّ، النكاحُ والطلاق والرجعة»

“Tiga perkara yang seriusnya dihukumi serius, dan bercandanya dihukumi serius; Akad nikah, talak, dan rujuk.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzy)

Berkata al-Khaththabi, “Mayoritas ulama telah bersepakat bahwa lafazh talak yang jelas jika terlontar dari lisan seorang yang baligh dan berakal maka ucapan tersebut akan ada sangsinya, dan tidak bermanfaat baginya perkataan, “Sesungguhnya aku hanya bercanda atau bergurau dan aku tidak meniatkan talak” atau ucapan yang senada.” (Alam as-Sunan 3/210)

Jika kata cerai terlontar dari mulut suami, maka seketika itu juga jatuh talak bagi istri.

Jika ia mengucapkannya tiga kali atau lebih, maka istrinya terkena talak tiga bainunah kubra menurut pendapat jumhur ulama.

Yang artinya ia telah bercerai dengan istrinya, dan tidak memiliki hak untuk rujuk kembali kecuali jika istrinya telah menikah dengan pria lain kemudian diceraikan atau ditinggal wafat oleh pria tadi.

ALLAH تبارك وتعالى telah berfirman,

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّىٰ تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ ۗ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ ۗ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

“Kemudian jika si suami mentalaknya (yang ketiga kalinya), maka perempuan itu tidak halal lagi baginya hingga dia menikah dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kembali menikah jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum ALLAH. Itulah hukum-hukum ALLAH, diterangkan-NYA kepada kaum yang (mau) mengetahui.” (QS. al-Baqarah : 230)

Oleh karenanya masing-masing daripada suami maupun istri harus mengetahui hal ini, sehingga suami tidak gampang melontarkan kata-kata cerai, dan istripun tidak gampang memancing suaminya untuk menceraikannnya.

Karena bercerai adalah pilihan pahit terakhir jika memang tidak ada solusi lagi untuk prahara.