Ibadah Sebagai Perwujudan Syukur

Ibadah Sebagai Perwujudan Syukur

518
0
BERBAGI

Sayang sekali banyak kaum muslimin di negeri kita yang belum mengerti, bahwa rasa syukur kepada ALLAH سبحانه وتعالى itu seyogyanya diwujudkan dengan beribadah kepada-Nya saja.

Pun diwujudkan dengan ibadah-ibadah yang telah disyariatkan oleh ALLAH dan Rasul-Nya. Bukan dengan melarung sesaji, melarung Jolen, mempersembahkan kepala kerbau, jajanan pasar, membakar kemenyan, ritual dan pesta rakyat.

Jika kita mau membaca dan menggali ilmu lebih dalam, ternyata disana terdapat amalan-amalan yang disyariatkan, yang mengisyaratkan perwujudan syukur kita kepada ALLAH تبارك وتعالى.

Amalan-amalan tersebut diantaranya;

A. Sujud Syukur

Berkata Ibnu al-Qayyim رحمه الله, “Termasuk dari tuntunan Nabi صلى الله عليه وسلم dan tuntunan para sahabat beliau ialah bersujud syukur ketika mendapat kenikmatan baru yang sangat menggembirakan, atau ketika dihindarkan (dari mereka) sebuah marabahay

Sebagaimana disebutkan di dalam al-Musnad dari Abu Bakrah رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم jika sampai kepada beliau perkara yang sangat menggembirakan maka beliau tersungkur dan bersujud sebagai bentuk rasa syukur kepada ALLAH.

Ibnu Majah menyebutkan dari Anas bin Malik رضي الله عنه bahwasanya Nabi صلى الله عليه وسلم apabila diberi kabar gembira tentang suatu perkara maka beliau tersungkur dan bersujud.” (Zadul Ma’ad, 1/360)

B.Shalat Malam

Dari Aisyah رضي الله عنها berkata, “Sesungguhnya Nabi صلى الله عليه وسلم senantiasa shalat malam hingga kaki beliau lecet.”

Aisyah bertanya, “Mengapa Anda berbuat demikian wahai Rasulullah, bukankah dosa Anda yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni oleh ALLAH?.”

Beliau menjawab, “Tak bolehkah diriku menjadi hamba yang banyak bersyukur?.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

C. Puasa Asyura

Berkata Ibnu al-Qayyim رحمه الله, “Tatkala Nabi صلى الله عليه وسلم datang ke Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi begitu memuliakan hari (Asyura) dan berpuasa pada hari tersebut.

Beliau pun menanyakan sebabnya kepada mereka. Maka mereka menjawab bahwa hari tersebut adalah hari dimana ALLAH menyelamatkan Musa beserta kaumnya dari Fir’aun.

Maka Nabi صلى الله عليه وسلم pun menimpali, “Kami lebih berhak dengan Musa daripada kalian.”

Maka beliau pun berpuasa dan memerintahkan para sahabatnya untuk berpuasa sebagai penegasan dan pengagungan.

Beliau juga mengabarkan bahwa beliau beserta umatnya lebih berhak dengan Musa daripada kaum Yahudi.

Jika Musa berpuasa sebagai bentuk rasa syukur kepada ALLAH, maka kita lebih berhak untuk meneladaninya daripada Yahudi, terlebih lagi jika kita berpendapat bahwa “Syariat umat sebelum kita, adalah syariat kita juga, selama syariat tersebut tidak bertentangan dengan syariat kita.” (Zadul Ma’ad, 2/70-71)

D. Zakat Fitrah

Berkata Ibnu al-Utsaimin رحمه الله, “Yang dimaksud dengan Zakat Fitrah ialah, satu sha’ makanan pokok yang dikeluarkan ketika akhir Ramadhan.

Adapun sebabnya ialah sebagai perwujudan rasa syukur atas nikmat ALLAH kepada seorang hamba, karena sanggup menyempurnakan Ramadhan dan bisa berbuka kembali.” (Majmu Fatawa, 18/257)

E. Kurban Haji Tamatu

Berkata Ibnu al-Utsaimin رحمه الله,

“Kurban (sembelihan haji tamatu) statusnya merupakan fadhilah (keutamaan) semata. Dan hal tersebut merupakan perwujudan rasa syukur kepada ALLAH.

Karena haji tamatu’ dan haji qiran memperoleh dua manasik sekaligus dengan sekali safar, maka sebagai bentuk rasa syukur kepada ALLAH ialah dengan menyembelih hadyu (kurban).” (Majmu Fatawa, 24/172)

F. Akikah

Berkata Ibnu al-Qayyim رحمه الله, “Sembelihan (akikah) untuk anak terisyarat padanya makna pendekatan diri kepada ALLAH, makna syukur, makna tebusan, makna sedekah, memberi makan, tatkala dikaruniai sebuah kegembiraan yang besar.

Hal itu ditujukan sebagai ungkapan syukur kepada ALLAH, serta perwujudan syukur atas nikmat (dikaruniai anak) yang merupakan tujuan disyariatkannya pernikahan.” (Tuhfatul Maudud hal. 70)

G. Sedekah

Rasa syukur dapat pula diwujudkan dengan sedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan.

Dari Ka’ab bin Malik رضي الله عنه, “Saya berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya sebagai bentuk (syukur) atas taubatku, saya ingin melepas hartaku sebagai sedekah untuk ALLAH dan Rasul-Nya.”

Maka beliau menjawab, “Tahanlah sebagian hartamu karena itu lebih bermanfaat untukmu.”

Kata Ka’ab, “Maka saya tahan harta bagian saya yang ada di Khaibar.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Demikianlah beberapa amalan yang memiliki asal dan landasan dalam Islam, yang dilakukan sebagai perwujudan kita bersyukur kepada ALLAH.

Dan amalan-amalan sunah yang lain yang juga disyariatkan, sebagai bentuk syukur mustahab.

Berkata Ibnu Rajab al-Hanbali رحمه الله, “Tingkatan yang kedua dari syukur yaitu syukur mustahab. Yang berarti seorang hamba beramal dengan amalan (sunah yang disyariatkan) setelah ia menunaikan yang wajib. Serta menjauhi hal-hal yang diharamkan ALLAH dengan banyak melakukan ketaatan. Inilah derajat as-Sabiqin al-Muqarrabin (orang-orang yang didekatkan)…” (Jami al-Ulum wal Hikam, 1/246)

BERBAGI
Artikel sebelumyaDimana Air Matamu?
Artikel berikutnyaJaga Fitrah Anak