Ikut Syariat, Siapa Takut!

Ikut Syariat, Siapa Takut!

722
0
BERBAGI

Suatu ketika Ustadz Budi Ashari, Lc menanyakan sebuah pertanyaan kepada peserta seminar Parenting Nabawiyah di Bogor. Pertanyaannya sepertinya  mudah, dan jawabannya pun sudah tersedia, tinggal memilih.

Begini pertanyaannya:

“Ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian, mana yang lebih mudah sebenarnya, menjadikan anak kita rusak atau menjadikan anak kita sholih?”

Dan serta merta kebanyakan peserta seminar menjawab dengan suara lantang dan tegas : RUSAK

Ketika Ustadz Budi Ashari menanyakan kembali, “Yakin?”

Maka sebagian mulai tampak berpikir keras, dan sebagian lagi masih yakin dengan jawaban semula.

Ustadz Budi  pun mengingatkan :

“Bukankah kita semua meyakini bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi dan Nasrani?”

***

Demikianlah sekilas percakapan singkat pembuka seminar yang saya yakin seharusnya menjadi pertanyaan penting bagi semua orang tua saat ini. Kekhawatiran  demi kekhawatiran  terjadi di tengah masyarakat. Orang tua mulai resah bahkan ketakutan luar biasa dengan hal-hal negatif  yang muncul dalam proses pendidikan anak-anak lain akibat dampak dari berbagai artikel dan liarnya berita di media sosial.

Ada dua hal utama yang harus menjadi bahan perenungan kita:

Bila kita meyakini anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (Islam), maka bukankah lebih mudah bagi mereka diarahkan untuk menjadi anak sholih? Karena mereka bukanlah kertas putih yang tak bertuliskan apa pun.  Mereka adalah Muslim. Mereka Muslim  bahkan sebelum mereka dilahirkan. Mereka diikat kesaksian suci dalam jiwa mereka oleh Allah di alam ruh.

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian kepada jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku adalah Tuhan-Mu”, dan dia saat itu telah menjawab: “Ya Engkau adalah Tuhanku dan aku bersaksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lupa terhadap (persaksian) ini.” (QS. al-A’raaf; 7:172)

 

Masih mau berpikir bahwa anak kita adalah kertas putih yang tak punya kecenderungan apa pun? Percayalah, mereka cenderung kepada fitrah, mereka cenderung kepada jalan yang sudah ditentukan kepada mereka bahkan sebelum mereka dilahirkan.

Maka bukankah menjadi aneh, bila manusia yang diciptakan dalam keadaan fitrah lebih mudah untuk mengikuti yang bukan fitrah?  Bukankah  bila mengikuti fitrah semestinya hanya tinggal meneruskan dan tidak perlu mengubah apa-apa lagi?

Sebaliknya bila ingin anak rusak,  bukankah justru butuh usaha keras luar biasa untuk melakukannya karena melawan fitrah?

Namun semua seakan terbalik. Orang tua yang sholih dan mengharapkan anak-anak mereka sholih dilanda ketakutan yang luar biasa. Kekuatiran yang bahkan tak mampu ditekan oleh mereka.

Kenapa?

Karena ternyata orang tua nya masih juga bingung menentukan harus lewat jalan yang mana untuk melangkah dalam mendidik anak-anak mereka. Dunia  yang melenakan mengaburkan kesucian fitrah itu. Semua seakan baik, semua seakan benar.  Ikut arus,trend, dan latah.  Hingga tak punya cukup kepercayaan diri untuk  mencukupkan diri dengan: IKUT SYARIAT SAJA.

‘Abdullah bin Mas‘ud Radhiyallahu anhu berkata :
خَطَّ لَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا بِيَدِهِ، ثُمَّ قَالَ: هَذَا سَبِيْلُ اللهِ مُسْتَقِيْمًا، وَخَطَّ خُطُوْطًا عَنْ يَمِيْنِهِ وَشِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: هذِهِ سُبُلٌ ]مُتَفَرِّقَةٌ[ لَيْسَ مِنْهَا سَبِيْلٌ إِلاَّ عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُوْ إِلَيْهِ، ثُمَّ قَرَأَ قَوْلَهُ تَعَالَى: وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis dengan tangannya kemudian bersabda: ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda: ‘Ini adalah jalan-jalan yang bercerai-berai (sesat) tidak satupun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat syaithan yang menyeru kepadanya.’

Selanjutnya beliau membaca firman Allah Azza wa Jalla: ‘Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-berai-kan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.’” [Al-An’am: 153]

 

Jadi kenapa masih takut? Ikut syariat saja, biar Allah yang melindungi anak-anak kita.

Sertai mereka selalu dalam doa dan sujud panjang kita…

 

Allahu a’lam bish-shawab.