Istri Diktator

Istri Diktator

59
0
BERBAGI

Seorang lelaki adalah pemimpin bagi istrinya. Dimana ia memiliki hak untuk mengatur, membina dan meluruskan istrinya.

ALLAH Azza wa Jalla berfirman,

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka….” [QS. an-Nisa : 34]

Namun ada diantara lelaki yang diuji dengan dengan istrinya. Dimana seharusnya suami lah yang menjadi pemimpin, alih-alih justru istrinya yang mengatur, menguasai rumah, dan mengarahkan suaminya.

Ini merupakan kehancuran besar dalam berumah tangga bagi suami. Karena jika dilepaskan itu berarti perceraian. Dan jika dipertahankan itu berarti kehinaan. Bagai buah simalakama.

Dan bukan hanya kehinaan bagi seorang suami yang mau diatur-atur dan dipimpin oleh istrinya, namun hal tersebut juga merupakan kegagalan yang nyata bagi rumah tangganya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَنْ يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا أَمْرَهُمْ امْرَأَةً

“Tidak akan beruntung sebuah kaum yang urusan mereka dikuasai oleh wanita.” [HR. al-Bukhari]

Bagi seorang suami yang diuji dengan istri diktator, maka solusi untuk keluar dari permasalahan tersebut ialah dengan memperbaiki hubungannya dengan ALLAH, semakin mempertakwa diri, mengagungkan ALLAH semata, takut hanya kepada ALLAH, khusyuk dalam ibadah, dan berdoa sungguh-sungguh untuk kebaikan diri dan keluarganya, serta meninggalkan dan menjauhi maksiat secara totalitas.

Karena orang yang bertakwa kepada ALLAH, dan hanya mengagungkan ALLAH, maka ALLAH akan muliakan dirinya, dan menaruh kewibawaan dalam dirinya, hingga orang-orang akan menaruh rasa cinta dan hormat kepada dirinya.

Dan takwa adalah sebab yang paling utama untuk memperbaiki hubungan diantara manusia.

ALLAH Azza wa Jalla berfirman,

ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ

“…oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu…” [QS. al-Anfaal]

Adapun seorang lelaki yang hendak menikahi seorang wanita, agar tidak timbul sikap kediktatoran istri kepada suaminya kelak setelah berumah tangga, maka hendaknya ia menikahi wanita yang sekufu (selevel) atau pun lebih rendah daripada dirinya.

Karena wanita yang sekufu atau lebih rendah adalah sebab yang utama baginya untuk tidak berlaku semena-mena terhadap suaminya.

Beda halnya jika ia lebih berharta, lebih berkelas, lebih pintar, lebih berpendidikan daripada suaminya, maka hal tersebut bisa menjadi sebab dirinya untuk berlaku kurang ajar terhadap suaminya.

Itulah kenapa sebagian ulama mempersyaratkan pernikahan harus dengan wanita yang sekufu.
==============