Kedudukan Masjid

Kedudukan Masjid

25
0
BERBAGI

Kedudukan dan peran masjid bagi kaum muslimin sangatlah agung.

a. Tempat paling dicintai ALLAH

Pertama, karena masjid adalah tempat di dunia ini yang paling dicintai oleh ALLAH, maka kaum muslimin pun mencintainya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَحَبُّ البلاد إلى الله مساجدُها، وأبغضُ البلاد إلى الله أسواقها

“Tempat yang paling dicintai oleh ALLAH adalah masjid, dan tempat yang paling dibenci oleh ALLAH adalah pasar.” (HR. Muslim)

b. Digandengkan dengan nama ALLAH

Kata Masjid digandengkan dengan asma ALLAH Yang Maha Mulia, yang mengisyaratkan keagungan kedudukan masjid di sisi ALLAH.

ALLAH Azza wa Jalla berfirman,

(إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ)

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid ALLAH hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta (tetap) melaksanakan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada apa pun) kecuali kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. at-Taubah : 18)

c. Rumah ALLAH

Masjid disebut sebagai rumah ALLAH, maka tidak ada rumah yang lebih mulia daripada masjid.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

(ما اجتمع قومٌ في بيت من بيوت الله)

“Tidaklah sekelompok orang berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah ALLAH…” (HR. Muslim)

d. Hanya untuk orang beriman

ALLAH Azza wa Jalla berfirman artinya,

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid ALLAH hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian….” (QS. at-Taubah : 18)

e. Wajib menjaga adab di masjid

Tidak boleh membuat gaduh di masjid, berdagang menggelar lapak di masjid, tidak boleh mengotori masjid, sebelum masuk dan setelah keluar disunahkan membaca doa, serta disunahkan untuk shalat tahiyatul masjid setiap kali masuk masjid sebagai bentuk adab penghormatan masuk di rumah ALLAH.

f. Tersucikan dari najis

Masjid harus senatiasa disucikan dari najis dan kotoran, baik kotoran lahir maupun batin semisal syirik. Oleh karenanya orang-orang kafir dilarang masuk ke dalam masjid.

Hingga orang-orang yang junub dan haidh pun tidak diperbolehkan masuk ke masjid, demi menjaga kesuciannya, sampai mereka mandi besar.

Saking perhatiannya kaum muslimin menjaga kesucian masjid hingga mereka menuliskan tulisan ‘batas suci’ agar hal-hal yang akan mengotori masjid terhindarkan dari masuk ke dalam masjid.

Dalam mengagungkan syiar yang demikian kaum muslimin tidak diragukan lagi akan perhatian mereka terhadap masjid, bahkan mereka berlomba-lomba membuat masjid yang terbagus, ternyaman dan terbersih.

Namun sayang sekali, antusiasme mereka dalam membangun dan menjaga sarana fisik masjid tidak dibarengi dengan memakmurkan masjid untuk kegiatan-kegiatan keagamaan yang bermanfaat bagi kaum muslimin. Bahkan untuk melaksanakan shalat lima waktu saja yang rutin hadir berjamaah dapat dihitung.

Padahal membangun maknawi, keilmuan, dan keimanan kaum muslimin adalah lebih utama daripada sekedar pembangunan fisik.