Kedudukan Suami dan Istri

Kedudukan Suami dan Istri

1127
0
BERBAGI

Ibarat kata pepatah, bahtera yang memiliki dua nahkoda pastikan karam, demikian juga bahtera rumah tangga. Agar bahtera dan segenap orang yang menumpanginya selamat sampai tujuan maka tidak boleh ada dua nahkoda dalam satu bahtera.
Dan ingatlah bahwa nahkoda bagi rumah tangga adalah suami. Engkaulah pemimpin dalam rumah tangga.
Sebagaimana firman allah:
الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.
Maka sebagai pemimpin yang baik yang akan melabuhkan bahtera rumah tangganya di surganya Allah kelak para suami harus menjadi pemimpin yang bijak dan penuh kasih sayang, bekerja sama dan tolong menolong, bermusyawarah dengan anggota keluarga, berlaku adil juga tegas bukan keras ketika mengahadapi permasalahan. Karena ia akan di mintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya.
وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas keluarganya (HR.Bukhori dan Muslim)
Berbeda dengan masa jahiliyah, saat Islam datang derajat wanita terangkat dengan sendirinya. Dalam Islam keberadaan wanita sangat dihargai, bahkan Allah dengan jelas melindungi tubuh wanita dengan mewajibkan wanita untuk menutupi seluruh auratnya.
Islam juga memandang seorang istri sebagai hal yang sangat berharga bagi suaminya. Terlebih lagi istri shalehah diumpamakan sebagai perhiasan dunia. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
“Dunia adalah perhiasan (kesenangan) dan sebaik-baik perhiasan (kesenangan) dunia adalah wanita (istri) shalihah.” (HR. Muslim)
Namun saat ini banyak kaum wanita yang mengeyam pendidikan menimba ilmu sebanyak mungkin dan berhasil menggondol gelar akademis tertinggi , maka ia membusungkan dadanya, mengangkat mukanya dan bangga dengan pendapatnya. Ia menolak konsep syari akan ketundukan wanita terhadap suami, ia jadi sulit dikendalikan, ia juga berpikir apakah masuk akal bila di zaman emansipasi wanita seperti ini masih mau diam saja di bawah ketiak laki-laki.
Dan yang dimaksud dengan ketaatan di sini bukan berarti bahwa wanita harus menghapus kepribadiannya dan hanya menjadi perangkat bisu yang tak dapat berpikir, sehingga dapat digerakkan suami ke arah mana pun ia suka. Namun, maksudnya adalah istri mematuhi suami dalam setiap urusan yang tidak menyelisihi syariat. Sedangkan perkara yang bersebrangan dengan syariat maka ia wajib tidak mentaatinya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ
“Tidak ada ketaatan dalam perkara maksiat. Ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma’ruf (kebaikan).” (HR. Bukhari no. 7145 dan Muslim no. 1840)
Dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan,
لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah.” (HR. Ahmad 1: 131)
Wanita boleh mendiskusikan perkara yang ia persilisihkan dengan suami. Menjelaskan sudut pandangnya dan pendapatnya dengan gaya bahasa meminta penjelasan, bukan memerintah, dan dengan ekspresi penurut bukan penentang
Lelaki itu menyenangi wanita sebagai partner (pendamping) bukan rival. Ia pun tidak menyukai wanita yang kolot dan tidak sensitif, seperti batu yang mau menggelinding ke arah mana pun. Komunikasi antara suami dan istri sangat urgen untuk membangkitkan semangat hidup dan membunuh rutinitas yang melahirkan kejemuan dan kebosanan.
Mughiroh bin syu’bah memaparkan kepada kita bagaimana kehidupan rumah tangga saat menyimpang dari jalurnya dan ketika berjalan lancar diatas rel-relnya. Ia berkata “bila suami menjadi laki-laki dan istri menjadi laki-laki keduanya akan berbenturan dalam kehidupan, bila suami bersikap seperti perempuan dan istri tetap menjadi perempuan keduanya akan mati kelaparan, bila suami bersikap seperti perempuan dan istri bersikap seperti laki-laki maka laki-laki itu akan menjadi istri pengurus rumah tangga) dan si istri menjadi suami (kepala rumah tangga) dan bila suami tetap menjadi laki-laki dan istri tetap menjadi wanita, niscaya kehidupan keduanya berjalan damai.
Dan seperti inilah fithroh Anak adam bahwa istri diperintahkan untuk menuruti perintah suaminya
Ketaatan seorang istri pada suami termasuk sebab yang menyebabkannya masuk surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.” (HR.Ahmad)
Maka pahamilah kedudukan kalian masing-masing agar Allah memberikan keberkahannya kepada keluarga kaum muslimin

Tim Mawaddah Center