Kisah Ahli Taat & Ahli Maksiat

Kisah Ahli Taat & Ahli Maksiat

293
0
BERBAGI

Diriwayatkan dari Abu hurairah bahwa Rosulullah bersabda:
“Pada zaman Bani Israil dahulu, hidup dua orang laki-laki yang berbeda perangainya. Salah seorang suka berbuat dosa dan yang lainnya sangat rajin beribadah. Setiap kali orang yang ahli ibadah ini melihat temannya berbuat dosa, ia menyarankankan untuk berhenti dari perbuatan dosanya.

Suatu kali ahli ibadah ini mendapatkan temannya tengah berbuat dosa, maka dia berkata,’Berhentilah dari berbuat dosa.’ Dia menjawab, ‘Jangan pedulikan aku, terserah Allah akan memperlakukan aku bagaimana. Memangnya engkau diutus oleh Allah untuk mengawasi aku?’ laki-laki ahli ibadah itu menimpali,’Demi Allah, dosamu tidak akan diampuni olehNya atau Dia tidak akan memasukkan kamu ke dalam surga.’

Kemudian Allah mencabut nyawa kedua orang itu, kemudian mereka berdua menghadap Robbul ‘Alamin. Allah berfirman kepada lelaki ahli ibadah, ‘apakah kamu lebih mengetahui daripada Aku? Ataukah kamu dapat merubah apa yang telah berada dalam kekuasaan tanganKu.’ Kemudian kepada ahli maksiat Allah berfirman, ‘Masuklah kamu ke dalam surga berkat rahmatKu.’ Sementara untuk ahli ibadah Dia berfirman (kepada para malaikat) ‘Masukkan orang ini ke neraka’
(HR. Ahmad 2:323)

Dari hadist diatas bisa kita ambil pelajaran:
1. Anjuran untuk senantiasa menyeru kepada kebaikan dan melarang perbuatan buruk.
2. Hendaknya ketika seseorang diingatkan untuk tidak berbuat dosa, segera meninggalkan perbuatan dosa tersebut dan tidak keras kepala dan sombong.
3. Jika mau menasehati seseorang maka motivasilah untuk berbuat baik, janganlah membuat orang putus asa dari rahmat Allah, karena sesungguhnya rahmat Allah sangat luas. Jika mau menasehati seseorang maka motivasilah untuk berbuat baik.
4. Beratnya sanksi bagi seseorang yang memastikan bahwa orang lain masuk surga ataupun neraka, karena ini merupakan perkara yang ghoib dan orang tersebut berarti mengakui bahwa dia memiliki sifat ketuhanan.
5. Sanksi yang berat yang mengucapkan sesuatu atas nama Allah, tanpa didasari ilmu.
6. Celaan kepada seseorang yang mengklaim dirinya sebagai hakim kebenaran.