Kisah Setangkai Anggur Penuh Makna

Kisah Setangkai Anggur Penuh Makna

719
0
BERBAGI

Adz Dzahabi dalam Tarikhul Islam ketika menyebutkan biografi Al Hakam bin Al Walid Al Wuhadzi Al Himshi salah seorang Shighor At Tabi’in, menyebutkan riwayat kisah ini dengan teks,

عن أبي بُسْرٍ قَالَ: بَعَثَتْنِي أُمِّي بِقِطْفِ عِنَبٍ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَكَلْتُهُ، فَكَانَ بعد إذا رآني قال: «غدر، غدر»

Dari Abu Busr berkata: Aku diutus ibuku untuk memberikan setangkai anggur kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, tapi aku memakannya. Maka, jika Nabi melihatku beliau berkata: Pelanggar amanah, pelanggar amanah.

Al Bukhari dalam At Tarikh Al Kabir juga menyampaikan tentang biografi Al Hakam dan menyebutkan riwayat ini,

عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ بُسْرٍ: بَعَثْتَنِي أُمِّي إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقُطْفٍ مِنْ عِنَبٍ فَأَكَلْتُهُ فَقَالَتْ أُمِّي: أَتَاكَ عَبْدُ اللَّهِ بِقُطْفٍ؟ قَالَ: لا فكَانَ إذا رآني قَالَ: غُدَرُ غُدَرُ!

Dari Abdullah bin Busr: Ibuku mengutusku kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam untuk memberikan setangkai anggur, tapi aku memakannya. Ibuku bertanya: Apakah Abdullah telah memberimu setangkai anggur? Beliau menjawab: Tidak. Maka jika beliau melihat saya, beliau berkata: Pelanggar amanah, pelanggar amanah.

Ibnu Adiy dalam Al Kamil dengan sanadnya meriwayatkan hadits ini dengan lafadz persis seperti lafadz Al Bukhari di atas.

Ibnu Nuqthoh Al Baghdadi dalam Ikmal Al Ikmal meriwayatkan hadits ini dengan lafadz yang juga sama dengan riwayat Al Bukhari. Ibnu Hajar dan Lisan Al Mizan meriwayatkan dengan lafadz yang sama. Abul Hasan Alin bin Abdillah bin Ibrahim Al Hasyimi dengan sanadnya ia meriwayatkan kisah yang juga sama lafadznya (lihat: Majmu’ fihi ‘Asyratu Ajza’ Haditsiyyah). Demikian juga dengan Abu Nu’aim Al Ashafani dalam Ath Thibb An Nabawi.

Adapun Ibnu Sunni dalam ‘Amalaul Yaumi Wal Lailah meriwayatkan dengan tambahan lafadz dan An Nawawi mengambil riwayat ini dalam Al Adzkar. Berikut teksnya,

عن عَبْدَ اللَّهِ بْنَ بُسْرٍ الْمَازِنِيَّ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: بَعَثَتْنِي أُمِّي إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقِطْفٍ مِنْ عِنَبٍ، فَأَكَلْتُ مِنْهُ قَبْلَ أَنْ أُبَلِّغَهُ إِيَّاهُ، فَلَمَّا جِئْتُ بِهِ أَخَذَ أُذُنِي وَقَالَ: «يَا غُدَرُ»

Dari Abdullah bin Busr Al Mazini radhiallahu anhu berkata: Ibuku mengutusku kepada Rasulullah untuk membawa setangkai anggur, tapi aku makan sebelum sampai kepada beliau. Ketika aku datang, beliau menjewer telingaku dan berkata: Hai pelanggar amanah.

 

Al Khathib Al Baghdadi dengan sanadnya meriwayatkan kisah di atas, hanya saja dengan tambahan lafadz:

Ketika aku menemui beliau, beliau mengusap kepalaku dan berkata: Hai pelanggar amanah.

 

Adapun riwayat Ibnu Majah dalam Sunan nya, meriwayatkan kisah setangkai anggur tetapi bukan pada sahabat Abdullah bin Busr melainkan sahabat An Nu’man bin Basyir,

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، قَالَ: أُهْدِيَ لِلنَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عِنَبٌ مِنْ الطَّائِفِ، فَدَعَانِي فَقَالَ: “خُذْ هَذَا الْعُنْقُودَ فَأَبْلِغْهُ أُمَّكَ” فَأَكَلْتُهُ قَبْلَ أَنْ أُبْلِغَهُ إِيَّاهَا، فَلَمَّا كَانَ بَعْدَ لَيَالٍ قَالَ لِي: “مَا فَعَلَ الْعُنْقُودُ؟ هَلْ أَبْلَغْتَهُ أُمَّكَ؟ ” قُلْتُ: لَا. قال: فَسَمَّانِي غُدَرَ

Dari Nu’man bin Basyir berkata: Nabi shallallahu alaihi wasallam dihadiahi anggur dari Thaif. Beliau memanggil saya dan berkata: Ambil setangkai anggur ini dan sampaikan kepada ibumu. Maka aku memakannya sebelum sampai kepada ibuku. Setelah beberapa malam, beliau bertanya kepadaku: Apa kabarnya setangkai anggur? Apakah telah kamu berikan kepada ibumu? Aku berkata: Tidak. Maka beliau menamaiku dengan: Ghudar (pelanggar amanah).

 

Riwayat ini juga diriwayatkan oleh Al Mizzi dengan sanadnya dalam Tahdzib Al Kamal dengan sedikit tambahan: Maka aku memakannya di jalan.

Kemudian Al Mizzi menjelaskan:

Menurut penulis kitab Al Athraf, hadits Ibnu ‘Irq dari ayahnya dari An Nu’man bin Basyir adalah riwayat yang rancu. Dia berkata: yang benar adalah riwayat Ibnu ‘Irq dari Abdullah bin Busr. Tetapi dia tidak memberikan dalil (atas pernyataannya ini). Padahal sangat mungkin keduanya benar. Bahwa ini adalah dua kisah yang berbeda. Wallahu a’lam

 

Maka inilah kesimpulan dari kisah setangkai anggur ini,

  1. Ada dua peristiwa yang berbeda, menurut Al Mizzi
  2. Kisah pertama terjadi pada Abdullah bin Busr yang diamanahi ibunya untuk memberikan anggur kepada Rasulullah
  3. Kisah kedua terjadi pada An Nu’man bin Basyir yang diamanahi Rasulullah untuk memberikan anggur Thaif kepada ibunya
  4. Kedua kisah tersebut sama-sama terjadi pada anak yang masih kecil
  5. Kedua kisah tersebut sama-sama tidak sampai amanahnya
  6. Tapi terdapat pernyikapan yang sama: Teguran
  7. Teguran itu berupa: Pertama, kalimat (“Hai pelanggar amanah”), melihat teks-teks di atas maka kalimat itu tidak hanya disebutkan sekali. Tetapi beberapa kali di beberapa pertemuan, beliau mengingatkan dengan teguran kalimat tegas ini. Kedua, tindakan menjewer telinga. Ketiga, tindakan mengusap kepala

Kisah setangkai anggur tersebut memberikan inspirasi mahal. Pertama, mari kita belajar menggali lebih dalam ketika ada kisah yang dirasa sama namun berbeda. Bagaimana menelusuri riwayat-riwayat yang telah disebutkan para ulama. Khilafiyah mungkin saja terjadi. Yang terpenting bukan  klaim siapa yang benar dan siapa yang salah. Tapi bagaimana proses menggali dan menelusuri ilmu hingga sampai pada kesimpulan  yang akan menjadi hujjah argumen ataupun tindakan kita.

Kedua, dari sisi aplikasi dan penerimaan, mungkin berat bagi kita yang terbiasa mendapat ilmu parenting bukan dari sumber Islam untuk menerima panggilan yang diberikan Rasul kepada anak-anak yang tidak memegang amanah yang diberikan pada mereka. Tapi justru di sinilah ada pelajaran luar biasa: bahwa Islam menempatkan amanah di  tempat yang sangat penting hingga Rasul sampai perlu memanggil anak-anak tersebut dengan panggilan yang tidak nyaman bagi mereka. Anak-anak dengan fitrah yang baik tidak akan nyaman dengan panggilan itu dan akan membuktikan dirinya tidak seperti itu.

Bila ada yang berpendapat sebaliknya, mungkinkah kita yang tidak meyakini fitrah baik yang ada di anak-anak kita.