Bagaimana Kaidah Ingin Haji Berulang-Ulang

Bagaimana Kaidah Ingin Haji Berulang-Ulang

0
0

Assalamu’alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh,

Sebagian umat Islam selalu ingin melaksanakan haji setiap tahun,
bahkan mungkin juga umrah setiap Ramadhan. Padahal akhir-akhir ini
pelaksanaan ibadah haji selalu dipenuhi oleh umat Islam dari seluruh
dunia yang terkadang menyebabkan sebagiannya jatuh menjadi korban karena berdesak-desakan terutama ketika thawaf, sa’i, dan melontar jumrah.

Bukankah lebih utama jika biaya untuk haji dan umrah sunnah itu digunakan untuk membantu fakir miskin atau untuk membantu program-program sosial serta lembaga-lembaga sosial umat yang seringkali kegiatannya terhenti karena kekurangan dana? Atau apakah biaya untuk pelaksanaan haji dan umrah berulang-ulang itu lebih afdhal daripada sedekah, berinfak di jalan Allah, dan untuk kejayaan Islam?

  • You must to post comments
0
0

Wa’alaikum salam wa rahmatullaahi wa barakaatuh,

Kenapa syariat kewajiban berhaji yang sangat indah dan meng182
Anda Bertanya Kami Menjawab Bersama Ustadz Bachtiar Nasir
harukan itu hanya sekali seumur hidup tentu karena alasan yang telah
diketahui oleh pengetahuan dan hikmah Allah Subhanahu wa Ta‘aala.

Hampir setiap orang ingin mengulangi kunjungan mereka ke tanah
suci. Haji yang berikutnya adalah sunnah dan sunnah adalah sesuatu
yang sangat dianjurkan Rasul-Nya. Akan tetapi, ada beberapa kaidah
yang mesti diperhatikan bagi yang ingin melakukannya:

1. Allah tidak akan menerima ibadah sunnah sampai ibadah wajib
dilaksanakan. Maka setiap orang yang melaksanakan ibadah haji
dan umrah sunnah tetapi ia tidak mengeluarkan zakat hartanya
yang diwajibkan kepadanya, haji dan umrahnya akan ditolak oleh
Allah. Seharusnya ia menyucikan dulu hartanya dengan berzakat.

2. Allah tidak akan menerima ibadah sunnah kalau hal itu menyebabkan
terjadinya suatu yang haram karena terhindar dari dosa
me ngerjakan yang haram lebih diutamakan dari mencari paha la
ibadah sunnah. Jika karena banyaknya jamaah haji sehingga ber desak-
desakan dan menyakitkan orang banyak menularkan penya kit,
jatuhnya korban karena terinjak-injak kaki jamaah haji sedang
mereka tidak merasakannya atau merasakannya tetapi tidak bisa
menghindarinya, hal yang harus dilakukan adalah ber usaha mengurangi
desak-desakan itu dengan segala cara. Langkah pertama
adalah orang-orang yang sudah haji agar menahan diri mereka
dan memberikan jalan bagi yang belum pernah haji.

3. Kaidah menghindari mafsadat (keburukan) lebih didahulukan daripada
mencari kebaikan, khususnya jika mafsadat itu menyangkut
orang banyak sedangkan kebaikannya hanya untuk beberapa
individu.

4. Pintu-pintu untuk melaksanakan ibadah-ibadah sunnah itu sangat
banyak dan luas sekali dan Allah tidak mempersempit hamba-
Nya dalam hal itu. Seorang Mukmin yang mempunyai pandang an
yang bijak adalah yang bisa memilih dari pintu-pintu ibadah itu
yang cocok dengan keadaannya serta sesuai dengan masa dan
ling kungannya. Kalau dalam melaksanakan haji sunnah dapat
me nimbulkan bahaya untuk umat Islam yang lain, Allah telah
membuka selebar-lebarnya kesempatan kepada seorang Muslim
ber ibadah dalam bidang yang lain. Dengan ibadah itu, ia dapat
mendekatkan diri kepada Allah tanpa menyakiti saudaranya.

Seperti sedekah bagi orang yang membutuhkan, apalagi bagi kerabatnya.
Rasulullah bersabda, artinya, ”Sedekah untuk orang
miskin adalah sedekah sedangkan untuk kerabat bernilai dua: sedekah
dan sila turahim.” (HR Ahmad, Tirmizi, an-Nasa’i, Ibn
Majah, dan al-Hakim dari Salman bin ‘Amir al-Shaifi dengan
isnad yang shahih)

Bahkan nafkah untuk keluarga itu bisa jadi suatu kewajiban bagi
seseorang kalau ia adalah orang yang berkecukupan sedangkan saudaranya
hidup dalam kekurangan, begitu juga terhadap tetangga-tetangganya
yang miskin.

Seperti yang dijelaskan dalam hadits:
Artinya, ”Bukanlah orang yang beriman seseorang yang tidur malam
penuh kekenyangan sedangkan tetangga sebelahnya kelaparan.”
(HR Thabrani, Abu Ya’la dari Ibnu Abbas, juga diriwayatkan oleh Hakim
dari Aisyah serta Thabrani dan al-Bazar dari Anas dengan beda lafazh)
Begitu juga dengan cara menginfakkan harta kepada organisasiorganisasi
agama, sekolah-sekolah Al-Qur’an, lembaga-lembaga sosial
umat Islam yang kebanyakan tersendat-sendat kegiatannya karena
tidak ada yang mendanai. Hal itu bukan karena miskinnya umat Islam
karena saat ini ada negara Islam yang termasuk negara terkaya di
dunia dan bukan karena sedikitnya orang baik dan dermawan dalam
umat Islam karena masih sangat banyak orang baik dan dermawan
dalam umat ini, tetapi hal itu disebabkan karena infak dan kebaikan itu
diletakkan tidak pada tempatnya.

  • You must to post comments
Showing 1 result
Your Answer

Please first to submit.