Lisan Ahli Surga vs Lisan Ahli Neraka

Lisan Ahli Surga vs Lisan Ahli Neraka

993
0
BERBAGI

Lisan. Anggota tubuh yang tidak bertulang, namun acapkali menggelincirkan seorang hamba ke dalam jurang kebinasaan.

Dari Muadz bin Jabal رضي الله عنه berkata,

“Pernah saya bersama Nabi صلى الله عليه وسلم dalam sebuah perjalanan, dan ketika itu kebetulan kami berjalan sejajar bersama – sama, maka saya pun angkat bicara,

“Wahai Rasulullah, apakah kita bisa diadzab hanya gara – gara ucapan yang kita lontarkan?.”

Maka beliau menjawab,

ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

“Sungguh rugi dirimu Muadz!. Bahkan betapa banyak manusia yang terjerembap kepalanya masuk ke dalam neraka hanya karena dosa lisannya.” (HR. at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ahmad)

Hal tersebut bisa berlaku bagi siapa saja, baik laki – laki maupun perempuan.

Namun sayang sekali, jika ternyata kaum perempuan lebih mudah tergelincir lisannya.

Maka perhatikan betul – betul perkara ini, dan jangan sampai kita sepelekan. Karena pahala shalat dan puasa kita belum tentu mampu mengimbangi dosa – dosa lisan kita.

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه berkata, “Dikatakan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم,

“Duhai Rasulullah, sesungguhnya fulanah terbiasa shalat malam dan berpuasa di siang hari, banyak beramal dan bersedekah, namun ia sering menyakiti tetangganya dengan lisannya?.

Maka beliau menjawab,

لا خير فيها، هي من أهل النار.

“Tidak ada kebaikan padanya, ia termasuk penghuni neraka.”

Orang – orang kemudian berkata, “Dan adalah fulanah, ia hanya shalat lima waktu dan bersedekah dengan sepotong keju, namun ia tidak pernah menyakiti siapapun.”

Beliau menjawab,

هي من أهل الجنة

“Dia termasuk penghuni surga.” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban, dan al-Hakim)

Lihatlah, betapa lisan sangat besar kedudukannya disisi ALLAH. Jika ia baik, maka menjadi kebaikan bagi amalan yang lain. Dan jika ia buruk, maka amalan yang lain pun ikut imbas yang buruk.

Saking agungnya perkara lisan ini, sampai – sampai ALLAH mengabadikan nama seorang hamba di dalam al-Qur’an karena lisannya yang baik.

Berkata Amr bin Qais al-Mala’i, “Seorang lelaki berjalan melewati Lukman al-Hakim sedang orang-orang tatkala itu berkumpul disisinya.

Maka ia berkata, “Bukankah anda adalah budak bani Fulan?.”

Lukman menjawab, “Iya.”

“Yang menggembalakan ternak di bukit fulani, bukan?.”

“Iya.”

“Apa yang membuat anda bisa mencapai derajat, seperti yang aku lihat sekarang?.”

“BERKATA BENAR dan BANYAK DIAM dari sesuatu yang TIDAK BERMANFAAT (bagi akhiratku).” (Ibnu Rajab, Jami’ul Ulum hal. 115)

Itulah Lukman al-Hakim yang namanya diabadikan di dalam al-Qur’an dengan sanjungan.

Karena lisan yang keji dan kufur pula, ALLAH سبحانه وتعالى mengabadikan istri Nabi Nuh dan istri Nabi Luth di dalam al-Qur’an.

ALLAH سبحانه وتعالى berfirman,

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ ۖ كَانَتَا تَحْتَ عَبْدَيْنِ مِنْ عِبَادِنَا صَالِحَيْنِ فَخَانَتَاهُمَا فَلَمْ يُغْنِيَا عَنْهُمَا مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَقِيلَ ادْخُلَا النَّارَ مَعَ الدَّاخِلِينَ

“ALLAH membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba KAMI; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) ALLAH; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam).” (QS. at-Tahrim : 10)

Dikatakan oleh sebagian mufasirin bahwa khianat istri Nabi Nuh ialah karena ia menuduh suaminya sebagai orang gila.

Dan khianat istri Nabi Luth ialah, karena ia menceritakan ihwal para malaikat yang bertamu kepada Nabi Luth عليه السلام kepada kaumnya yang homoseks.

Dan kedua – duanya adalah orang yang kafir terhadap syariat suaminya. Semua hal tadi salah satunya dipicu oleh lisan yang kelewatan.

Itulah mereka berdua yang namanya abadi di dalam al-Qur’an dengan celaan.

Maka, jika konteks anda sekarang adalah sebagai orang istri, jangan sampai lisan anda menjadi jembatan menuju kebinasaan dengan mencela pemberian suami dan semisalnya.

Ingat betul sabda Nabi صلى الله عليه وسلم berikut,

يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ . فَقُلْنَ : وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟. قَالَ: تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِير

“Wahai kaum wanita, bersedekahlah. Karena aku sungguh telah melihat bahwa kaum kalian adalah penghuni neraka terbanyak.”

Maka kaum wanita bertanya, “Mengapa demikian wahai Rasulullah?.”

Beliau menjawab, “Karena kaum kalian senang sekali melaknat dan mengingkari pemberian suami.” (HR. al-Bukhari)

Mari kita muhasabah diri betul – betul, siapa pun kita, dan apa pun status dan konteks kita.

Ingatlah!. Bahwa lisan, adalah anggota tubuh yang paling sering menjerumuskan seorang hamba ke dalam neraka.

Maka, jaga betul lisan kita. Tahan betul lisan kita, jangan sampai melontarkan ucapan – ucapan yang dapat menimbulkan kemurkaan ALLAH sehingga dengannya seorang terlempar jauh ke dasar neraka.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ لَا يُلْقِي لَهَا بَالًا يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ

“Dan sesungguhnya ada seorang hamba, yang mengucapkan suatu kalimat yang dimurkai oleh ALLAH sedang dia tidak menyadarinya, hingga dia pun terjatuh ke dalam jahannam disebabkan karenanya.” (HR. al-Bukhari)

Rasulullah صلى الله عليه وسلم sendiri telah menjanjikan, bagi mereka yang mampu menahan lisannya dengan janji surga.

Beliau telah bersabda,

مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barangsiapa yang mampu menjamin apa yang ada diantara dua jenggot (yakni lisan) dan apa yang ada diantara dua paha (yakni kemaluan), maka aku jaminkan surga baginya.” (HR. al-Bukhari)

Maka, marilah kita gunakan lisan kita untuk memperbanyak ucapan – ucapan yang bermanfaat, dzikir, doa, nasehat dan semisalnya.

Jika kita tidak mampu, maka lebih baik kita memperbanyak diam, karena diam adalah emas.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada ALLAH dan hari akhir, maka hendaknya ia mengucapkan perkataan yang baik atau diam.” (HR. Muslim)

Inilah lisannya penghuni surga.

 

Penulis : Abu Ukasyah Sapto B. Arisandi