Lisanmu, Surgamu! Bag 1

Lisanmu, Surgamu! Bag 1

758
0
BERBAGI

Lisan memang tak bertulang, tapi ia menghanyutkan, mengasyikkan, dan melenakan. Ia memang tak bertulang, tapi silatan lidahnya bisa menggemparkan seisi jagad sekalian. Ia memang tak bertulang, tapi liukan manjanya sanggup menjerumuskan, bahkan ke tempat yang paling sengsara sekalipun.

Bak pedang, begitu peribahasa Arab membahasakan lisan. Jika engkau tak bisa menggunakannya maka ia akan memotongmu. Ya. Setuju sekali.

Lisan, jika ia tak bisa diperlakukan dengan baik, digunakan dalam perkara yang baik, maka ia akan menjerumuskan kita ke dalam perkara yang mungkar. Kalau ia tak bisa dimanfaatkan secara apik, kita yang akan dimanfaatkannya secara cerdik.

Maksudnya, bila kita tak bisa memaksanya berbuat ma’ruf, misalnya berzikir dan membaca Alquran, maka ia yang akan memaksa kita untuk berbuat yang mungkar, seperti gibah dan namimah. Walhasil, kesalahan dalam ‘mengasuh’nya hanya akan berujung kepada kemudharatan yang tidak sedikit. Itu yang musti diwaspadai.

Masih ingatkan kisah diusirnya Nabi Adam dan Siti Hawa dari surga? Mereka yang sudah nyaman dan tenteram serba keenakan di  Firdaus sana. Tak ada susah, tak jua payah, apalagi resah. Bahkan sekadar gundah pun ia tak merasakan. Tiba-tiba harus merasakan kesulitan. Turun kasta dari surga yang penuh kenikmatan, ke dunia hina yang penuh banjir kesengsaraan.

Sudah begitu, masing-masing masih dipisahkan pula dari kekasih hati selama bertahun-tahun lamanya. Lalu dipertemukanlah mereka pada akhirnya di padang Arafah setelah cukup menderita siksa batin yang tak terkira.

Masih ingatkan? Tahu penyebabnya? Ya. Itu dia si Iblis yang dengan keampuhan lisannya mampu menembus benteng hati keduanya, Adam dan Hawa. Hanya berbekal silat lidah, ia mampu meyakinkan mereka untuk memakan buah pohon larangan, Khuldi namanya. Sekali lagi, hanya berbekal lisan yang tak bertulang, ia berhasil menjerumuskan mereka. Dan terjadilah episode sedih itu, pengusiran dari surga.

Saya juga yakin, anda pasti masih ingat kisah yang menggoncang rumah tangga nubuwwah itu, ya kan? Itu lho yang menuduh Aisyah berbuat yang tidak-tidak dengan Shafwan ibn Mu’aththal. Saking hebatnya angin fitnah yang menerpa, sampai-sampai Rasulullah ‘menitipkan’ istri tercintanya itu ke rumah orang tuanya untuk sementara waktu. Dua bulan lamanya, beliau mengasingkannya di sana sambil menunggu wahyu turun dari langit. Dan selama itu pula kota Madinah gempar dengan desas-desusnya. Bahkan beberapa gelintir shahabat, karena termakan fitnah, ikut menyebarluaskannya.

Adalah ‘Abdullah ibn Ubay ibn Salul, orang yang pertama kali menyebarkannya. Berbekal silatan lidahnya, ia menyusup masuk ke rumah tangga nubuwwah, untuk kemudian, di sana, ia menelikungnya sehebat-hebatnya. Tapi Allah tak sudi membiarkannya terkatung-katung. DiturunkaNyalah pembelaan dan penyuciannya, sekaligus penyingkap tabir kedustaan si gembong munafikin. Tak tanggung-tanggung, sebelas ayat diturunkan untuk membersihkan nama dan citra Ummahatul Mukminin Aisyah. Dengan ayat kesatu sampai ayat kesebelas dari surat An-Nur, Allah mengukuhkan kesuciannya.

Sekali lagi, ini adalah melulu soal lisan yang tak bertulang itu. Ia yang tak terkendali di tangan pemiliknya, hampir-hampir meruntuhkan kehormatan manusia paling suci di bumi ini.

Juga masih banyak kisah-kisah lainnya yang serupa tapi tak sama, yang bisa jadi itu terjadi di sekitarnya anda. Atau bisa jadi anda malah pernah menjadi aktor atau korbannya.

Karenanya, sebelum lisan anda memakan korban berikutnya, bacalah dengan seksama kalimat-kalimat saya berikut. Ia yang meliuk panjang membentak dan menegur anda. Begitu juga kita. Saya dan anda, para lelaki.

Bersambung…..