Lisanmu Surgamu bag 2

Lisanmu Surgamu bag 2

664
0
BERBAGI

Dalam banyak kesempatan, Allah dan rasulNya selalu mengaitkan lisan dengan perkara-perkara besar. Jika tidak dengan surga, maka dengan neraka. Maka dalam suatu kesempatan Rasulullah pernah menyampaikan seperti dalam riwayat Al-Bukhari dan At-At-Tirmidzi, “Siapa yang mampu menjaminkan untukku keselamatan apa yang ada di antara dua bulu kumis dan jenggot serta apa yang ada di antara dua pangkal paha, niscaya aku jaminkan surga untuknya.”

Namun, pada kesempatan yang berbeda, beliau juga mewartakan ancaman. Hudzaifah ibn Al-Yaman, sahabat yang terkenal dengan sahibussir, si pemilik rahasianya Rasulullah ini membocorkan dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim, “Tidak akan masuk surga si pengadu domba.” Tentu pesan singkat yang ingin disampaikan dari konteks itu ialah bahwa pengadu domba akrab dan erat dengan neraka.

Ini dia yang membuat bulu kita bergidik. Permisalan yang mencekatkan aroma. Bagai makan bangkai saudara sendiri, begitu Allah menggambarkan perihal orang yang menggibahi sesamanya dalam surat Al-Hujurat ayat keduabelas.

Pun Rasulullah sama-sama mencela gibah. Ketika ditanyai apa itu gibah, beliau memberi jawab dalam riwayat Muslim, “Engkau menyebut-nyebut sesuatu yang ada pada diri saudaramu sedang ia membencinya.” Suara itu mengejar tanya, “Lalu bagaimana kalau hal itu memang benar adanya?” “Itulah yang namanya gibah,” jawab beliau, “Sebab jika tidak benar adanya maka itu namanya fitnah.”

Bahkan, dalam riwayat Abu Dawud, ketika beliau diperjalankan dalam Isra’ dan Mi’rajnya, beliau diperlihatkan pada sekelomok penghuni nereka yang mencakar-cakar wajah dan dada dengan kuku-kuku mereka sendiri yang berujud besi. Dengan penuh penasaran sekaligus rasa ngeri beliaupun menanyakan perihal mereka. Maka menjawablah Jibril dengan penuh wibawa, “Itulah balasan orang yang suka memakan bangkai saudaranya sendiri dan gemar membicarakan aibnya.”

Itulah tadi potensi-potensi dahsyat yang dimiliki oleh lisan, yang tentunya kendalinya ada pada kita selaku nahkodanya. Ia bisa menyanjungkan kita sampai menyempul ke langit-langit sana menembus surga. Atau sebaliknya, ia menjerumuskan kita dan menghempaskan kita sekencang-kencangnya ke dasar bumi yang paling dalam, yang dasarnya menyentuh panasnya api neraka jahannam. Ia yang tak bertulang, mampu menjadi penentu di saat-saat keramat. Saat-saat manusia meniti akhir cerita hidupnya. Di sana, di akhirat kekal nan abadi.

Maka dari itu, kita yang sudah terlanjur berlumur dengan dosa gibah hendaklah mencermati penjelasan Ibnul Qayyim dalam karyanya Al-Wabil Ash-Shaib, bahwa kafarah atau penebusan dari dosa itu adalah dengan memintakan ampun bagi orang yang kita gibahi. Yakni kita berbanyak ucap Allahummaghfir lana wa lahu, Ya Allah Yang Maha Pengampun berikanlanlah maafmu kepada kami dan orang yang kami gibahi. Itulah cara pentaubatannya, dan tentunya setelah itu, kita juga harus lebih waspada. Waspada pada lisan yang acapkali menjerumuskan kita.

* * *

Bukan kebetulan Rasulullah menjamin surga bagi yang mampu mengendalikan lisannya. Juga bukan tanpa sebab manakala beliau mengancamkan neraka bagi yang tidak sanggup mengekangnya. Seperti kisah antara Adam dan Hawa dengan Iblis, juga kisah Aisyah dalam haditsatul ifki. Kita berkaca, bahwa lisan mampu menyengsarakan, menghebohkan, dan mematikan. Bahwa ia sanggup meruntuhkan tembok tebal sekalipun. Bahwa ia mampu menelisik dan menyusup ke dalam benteng terkokohpun. Bahwa ia tersering merepotkan banyakorang, dan tanpa sadar, bahkan meskipun terhadap pemiliknya. Karenanya, pantaslah jika antara surga dan neraka ia terikat akhirannya.

Maka alangkah beruntungnya kita yang mampu mengendalikannya. Sungguh bahagia mereka yang mampu mengawasinya, mampu memonitoringnya, dan mampu membiasakannya pada yang baik-baik, hingga ia terbiasakan, hingga ia tercapkan pada yang baik-baik. Dan betapa malang nian kita yang tak mampu mengekangnya. Betapa celaka mereka yang mengumbarnya, mereka yang melepaskannya tak tentu arah, dan mereka yang mendidiknya pada yang jelek-jelek, hingga ia teradatkan, hingga ia tersematkan pada yang jelek-jelek. Sebab yang baik itu berujung di surga dan yang jelek berakhir di neraka.

Seperti sabda manusia teragung ini. Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim, ia mengajarkan kepada kita akan pentingnya menjaga dan mendidik lisan serta membiasakannya pada yang baik-baik.

“Selalulah kalian berjujur kata dan lelaku,” ujar Abdullah ibn Mas’ud membawakan hadits nabi, “Sebab jujur itu akan melahirkan sikap berbakti, yang pada akhirnya ia mengantarkan ke surga. Sungguh, seseorang itu akan terus bersikap jujur, hingga ia tercatat di sisi Allah sebagai orang jujur sejati. Dan hati-hatilah kalian dari berdusta ucap dan tindakan. Sebab ia akan memunculkan sikap fujur, yang pada ujungnya menyebabkan masuk neraka. Sungguh, seseorang itu akan senantiasa bertindak dusta, hingga ia termaktub di sisi Allah sebagai pendusta sejati.”

Ya. Sekali lagi, lisan memang bisa membimbing kita ke surga atau mengarahkan kita ke neraka. Tinggal kita mau pilih yang mana. Pilih surga, kita harus jujur. Pilih neraka, ya silahkan, itu hak anda. Anda mau berdusta? Resiko anda tanggung sendiri.

Pun begitu, di antara bentuk-bentuk berdusta ialah seperti ucapan seorang ibu kepada anaknya, “Kemarilah nak, aku beri kamu sesuatu.” Begitu mendekat, ia tak memenuhinya. Anak itu tak diberi apa-apa. Atau semisal orang yang bergurau ingin membuat yang lain tertawa namun dengan cara berdusta. Rasulullah mewanti-wantikan ancamannya pada orang yang model ini. Dalam riwayat Imam At-At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ahmad, dan Al-Hakim, beliau mengutarakan sabdanya, “Celakalah orang yang mencakapkan sesuatu demi membuat khalayak tertawa. Celaka… Sungguh celaka.”

* * *

Pada kalimat-kalimat berikut, anda akan diajak untuk menyelami sebuah makna, menyeksamainya dengan sepenuh pemahaman, pada pangkal-pangkal lisan yang berpotensi menjerumuskan anda, agar anda terhindar dari marabahayanya.

Imam Al-Bukhari dalam sahihnya meriwayatkan sebuah hadits dengan isnadnya dari Abdullah ibn Mas’ud, bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Mencela seorang Muslim adalah sebuah kefasikan, sedangkan membunuhnya adalah sebuah kekufuran.” Ya, mencela seorang Muslim berarti menyusupkan kefasikan dalam dada kita. Itulah potensi lisan yang acapkali membahayakan diri kita.

“Tahukah engkau siapa orang yang bangkrut itu?” tanya Rasulullah dalam hadits lain riwayat Imam Muslim. “Ia adalah orang yang tak punya uang dan harta benda,” jawab para shahabat serentak spontan.

“Ia,” begitu ujar Rasulullah menegaskan, “adalah orang yang pada hari kiamat kelak datang dengan membawa pahala shalat, zakat, dan puasa, namun ia juga membawa dosa-dosa tersebab karena pernah mencela, memfitnah, memakan harta, dan menumpahkan darah orang lain serta memukulnya. Maka kebaikan-kebaikannya akan dialihtangankan kepada orang yang dizhaliminya itu. Jika kebaikan-kebaikannya itu habis sebelum terbayarkan semua kezhalimannya maka kejelekan-kejelekan orang yang terzhalimi akan dipindahkan ke pundakya, hingga akhirnya ia pun dilempar ke neraka.”

Sungguh, sebuah akhir yang mengerikan. Sudah payah beramal serta membuang energi dan tenaga, mungkin juga harta, tapi berakhir di neraka sana. Karenanya, mari jaga diri kita dari berlaku zhalim atas sesama. Dan mari mulai dari lisan-lisan kita, sebab ia tersering menjerumuskan kita tanpa kita sadari. Mari…

Begitu juga kita harus menghindari sikap berkasar ria pada ucapan dan tingkahan kita. Sebab Imam Nawawi mengutarakan ketika menjelaskan hadits riwayat Imam Muslim “Celakahlah orang yang berlaku kasar” dalam karyanya yang agung, al-Minhaj Syarh Shahih Muslimibn al-Hajjaj, bahwa yang dimaksud adalah orang yang berlebih-lebihan, melampaui batas kewajaran pada lisan dan perbuatannya. Lagi-lagi, ini lisan disebut-sebut di sini. Dan lagi, karena potensi negatifnya pasti.

Ada juga tersebut potensi negatifnya yang lain. Seperti sebuah sabda nabi yang dibawakan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim berikut ini, “Orang yang paling dibenci di sisi Allah adalah orang yang gemar berdebat kusir.” Yakni berdebat karena ingin menang-menangan, bukan mencari kebenaran. Bahkan, dalam konteks membela yang benar sekalipun, kita dituntun untuk menjauhinya. “Aku jaminkan sebuah rumah di pinggiran surga,” ujar Rasulullah dalam riwayat Imam Abu Dawud, “Bagi yang meninggalkan debat meskipun dalam porsi membela kebenaran.”

Lagi-lagi ini tentang lisan. “Bukanlah seorang mukmin itu,” jelas Sang nabi dalam al-Adabul Mufrad karya Imam Al-Bukhari, “Yang suka mencacat cela, suka melaknat, berlaku keji, dan bertingkah buruk.”

Pesan yang perlu direnungkan di sini ialah berhati-hatilah dengan lisan kita. Jangan sampai ia mengumpat, melaknat, mencacat, dan bertingkah keji lagi buruk.

Satu lagi tentang lisan. Kali ini tentang kebiasannya yang senang berbicara yang tidak-tidak. Tentang kesukaannya yang memperbincangkan sesuatu yang tidak bermanfaat. Tentang hobinya yang bercas-cis-cus ke sana ke mari dalam areal ngerumpi. Ini yang musti dipahami dan ditaati. Sabda junjungan tertinggi ini menyentak dan menegur anda.  Al-Mughirah ibn Syu’bah melalui Imam Al-Bukari dan Muslim membagi-bagikan kepada anda apa yang didengarnya dari Sang Nabi. “Adalah Allah sangat melarang tiga jenis perbuatan: merumpi ria, menghambur-hamburkan harta, dan berbanyak-banyak tanya.”

* * *

Saya tahu anda lelah membersamai kalimat-kalimat saya ini. Tapi sebelum anda mengakhiri petualangan ilmiah anda pada subbab ini, ada baiknya jika anda mentadabburi sekaligus menyelami makna yang terkandung dari hadits di bawah ini. Lebih baik lagi, jika anda berkenan menghafalkan doa pada barisan-barisan kata yang mengiringnya. Dan sambil tetap anda menggumamkan di hati terdalam anda, bahwa lisanmu surgamu.

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan pada tiap diri anak adam,” ujar Ibnu Abbas dalam riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim memperdengarkan apa yang didapatnya dari Nabi, “Bagiannya dari zina. Mau atau tidak mau. Zina matanya adalah melihat. Zina lisannya adalah mengucap. Kemudian nafsunya mengandai-andai dan mengingini. Lalu kemaluannya akan membenarkannya atau mendustakannya.”

Satu doa yang perlu dihafalkan. Allaahumma innii a’uudzu bika min syarri sam’ii wa min syarri basharii wa min syarri lisaanii wa min syarri qalbii wa min syarri maniyyii, Ya Allah aku berlindung kepadamu dari keburukan pendengaranku, dari keburukan penglihatanku, juga keburukan pengucapanku, lagi keburukan hatiku, dan keburukan air maniku. (H.r. Abu Dawud).

By. AHRA