Membingkai Perasaan Istri

Membingkai Perasaan Istri

274
0
BERBAGI

Wanita sebagaimana fitrahnya, diciptakan dengan perasaan dan kasih sayang yang begitu dominan, daripada akalnya.

Istri yang adalah seorang wanita sudah barang tentu memiliki sifat yang sama. Perasaan istri yang dominan ini sejatinya tidak begitu sulit untuk ditaklukkan oleh suami.

Suami hanya butuh mengenali apa yang benar-benar diingikan oleh istrinya, dan jawaban yang paling menonjol dari pertanyaan tersebut ialah ‘bahwa mereka lebih ingin dimengerti, dipahami dan diperhatikan’.

Jika sang suami telah memiliki kepiawaian dalam mencurahkan perhatiannya kepada sang istri, maka benar-benar hal tersebut bisa dijadikan sebagai senjata pamungkas untuk meredakan gejolak emosi sang istri yang acapkali naik turun dengan arus yang menghayutkan perasaannya.

Banyak permasalahan rumah tangga yang pemicunya terjadi justru dari ketidakstabilan emosi sang istri.

Dalam keadaan ini, seorang suami yang lebih sempurna akalnya seharusnya mampu membingkai perasaan istri yang sedang bergejolak dengan bingkai kedamaian.

Dan diantara metode membingkai perasaan tersebut ialah,

1. Menyihirnya dengan kalimat “Aku sayang kamu”

Dari al-A’masy dari Ibrahim berkata, “Para sahabat biasa mengatakan, ‘Ucapan suami kepada istrinya ‘aku sayang kamu’ selevel dengan sihir.'” [Tarikh Ibnu Mu’in, 2/63]

2. Jadi pendengar setia dan menaruh keseriusan dalam memperhatikan.

Jarak antara perasaan dan lisan seorang wanita mungkin kurang dari sejengkal, karena itulah wanita lebih sering menumpahkan perasaannya dengan mengajak bicara suaminya. Yang mungkin antara curhatan dirinya dengan tanggapan suaminya berbilang 10 berbanding 1.

Oleh karenanya dalam suasana seperti ini baiknya suami menjadi pendengar setia.

3. Tidak ikut terbawa emosi, kuasai diri.

Ingatlah bahwa akal lelaki lebih sempurna dibanding akal perempuan, jika seorang suami cepat terbawa emosi seperti halnya perempuan maka itu pertanda bahwa ia kurang akal seperti mereka.

4. Rendam amarah ataupun emosi dengan dzikir.

Jika sang suami ataupun istri terpancing emosi hingga tersulut pertengkaran, maka jika dalam keadaan berdiri hendaknya mereka duduk. Baca ta’awudz, dan berwudhulah. Tenangkan hati sejenak, baru uraikan permasalahan dengan hati yang sejuk.

5. Semua akan baik-baik saja, insyaallah.

Jika dalam suatu kondisi seorang istri mengalami ketakutan, depresi ataupun trauma, maka sudah seharusnya seorang suami menenangkan perasaan sang istri.

Biarkanlah ia menumpahkan perasaannya lewat tangisan yang mengalir, jangan menyuruhnya untuk menahan. Hiburlah ia dengan ucapan-ucapan yang baik.

Suruh ia untuk meletakkan tangannya di dada, dan hiburlah bahwa ‘semuanya akan baik-baik saja insyaallah’.

ALLAH عز وجل pernah memerintahkan hal yang serupa kepada Musa عليه السلام.

واضمم إليك جناحك من الرهب..

“…dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada)mu bila ketakutan…” [QS. al-Qashash : 32]