Menelantarkan Anak Setelah Talak

Menelantarkan Anak Setelah Talak

159
0
BERBAGI

Bercerai adalah suatu pilihan yang menyakitkan. Orang bilang, apalah artinya kau bangun pernikahan, jika akhirnya kau runtuhkan.

Namun jika terlanjur hal tersebut menjadi akhir pilihan. Maka berbuat adillah, dan ihsan.

Banyak mantan suami merasa acuh, akan tanggung jawabnya sebagai ayah bagi anak-anaknya yang tinggal bersama mantan istrinya.

Dikiranya bahwa tanggung jawab menafkahi anak-anak tersebut otomatis akan beralih kepada istrinya.

Masyarakat kita, frame berpikirnya sudah salah besar dari dahulu. Mereka menganggap bahwa perempuan memiliki kewajiban yang sama dalam mencari nafkah, padahal sekali-kali tidak. Perempuan SEKALI-KALI TIDAK ADA KEWAJIBAN atas mereka untuk menafkahi, bahkan mereka dinafkahi.

Tanggung jawab menafkahi mantan istri tersebut akan berpindah dari mantan suaminya, kepada bapaknya, saudara lelakinya, anak lelaki yang baligh, atau pamannya.

Sedangkan tanggung jawab menafkahi anak-anak yang tinggal bersama mantan istrinya tetap ditanggung oleh mantan suami, selagi anak-anak tersebut memang belum baligh dan belum mampu mencari nafkah sendiri.

Karena selama-lamanya tidak ada istilah mantan anak. Anak selama-lamanya adalah tetap anak, hubungan darah yang tidak mungkin dipisahkan.

Ibnul Mundzir berkata, “Seluruh ahli ilmu yang kami hafal telah berkonsensus (ijma), bahwa wajib atas seorang lelaki menafkahi anak-anaknya (yang masih kecil) sedang mereka tidak memiliki harta. Karena orang tua merupakan bagian dari anaknya, dan anak merupakan bagian dari orang tuanya.” [8/171]

Maka jika anak-anak tersebut masih sekolah, yang memiliki tanggungan membayar biayanya adalah ayahnya. Biaya makan sehari-hari juga menjadi tanggung jawabnya.

Jika anaknya masih dalam kandungan mantan istrinya, atau dalam keadaan menyusui, maka wajib bagi mantan suami untuk menafkahi mantan istrinya, hingga selesai masa persusuan. Karena yang demikian sama dengan menafkahi anaknya, untuk menjaga kelangsungan hidup anaknya.

ALLAH Azza wa Jalla berfirman, artinya, “…Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.” [QS. ath-Thalaq : 6]