Mengenalkan Anak Dengan Orang-Orang Shalih

Mengenalkan Anak Dengan Orang-Orang Shalih

339
0
BERBAGI

Kebanyakan orang tua merasa cuek bahwa anak-anaknya menjadi fans ataupun penggemar berat orang-orang fasik bahkan orang-orang kafir.

Mereka tidak merasa risih, bahwa anaknya dengan bangga menggandrungi penyanyi fulani, bintang film fulani, ataupun olahragawan fulani.

Padahal mereka adalah orang-orang fasik yang jauh dari iman dan amal shalih.

Oleh karenanya jangan heran jika kelakuan mereka menjadi buruk, menjadi sulit diatur, tidak berbakti kepada orang tua, dan dengan ringan melanggar perintah ALLAH.

Sebagai orang tua semestinya kita sadar, bahwa anak merupakan aset terbaik bagi kita di akhirat. Dimana setelah kita meninggal, maka anak cucu kita lah yang akan memohonkan ampun untuk kita, merekalah pendulang pahala bagi kita yang tak pernah putus.

Dimana kebaikan yang kita ajarkan kepada mereka kemudian mereka amalkan, akan terus menerus mengalir pahalanya kepada kita, walaupun kita telah tiada.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلا مِنْ ثَلاثٍ : مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila anak Adam meninggal dunia maka terputuslah (pahala) amalannya kecuali tiga perkara; Sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim)

Agar anak-anak kita mengidolakan orang-orang shalih maka bawalah mereka menuju majelis-majelis ilmu dan ulama, kenalkan dan dekatkan mereka dengan para ulama dan orang-orang shalih.

Karena sesungguhnya bermajelis ilmu dengan ulama rabbani akan merubah perangai anak-anak kita menjadi baik.

Ibnul Jauzi رحمه الله pernah menceritakan kisah masa kecilnya, “Saya berjumpa dengan Abdul Wahhab al-Anmathi. Beliau mengikuti ajaran salaf. Saya tidak pernah mendengar di majelis ilmunya terdapat ghibah.

Beliau juga tidak meminta imbalan dari mengajar hadits. Apabila saya membacakan kepadanya hadits-hadits raqaiq (yang membuat sedih) maka beliau menangis terus menerus.

Waktu itu saya masih kecil. Tangis beliau itu sangat berpengaruh dalam hati saya dan membangun prinsip-prinsip adab dalam diriku.” (Shaidul Khatir)

Lihatlah!. Betapa bermajelis dengan para ulama ternyata menjadikan akhak seorang anak menjadi baik dan beradab, hingga setelah dewasa, anak ini pun (yakni Ibnul Jauzi) menjadi salah ulama kaum muslimin.

Kita tidak tahu kapan hidayah dari ALLAH datang menyapa, namun kita hanya bisa mengupayakan wasilah-wasilahnya.

Oleh sebab itu marilah kita biasakan anak-anak kita untuk datang menghadiri majelis ilmu, kita biasakan untuk mengenal orang-orang shalih.

Mudah-mudahan dengan begitu akan terpatri di dalam hatinya rasa cinta terhadap ilmu dan orang-orang yang berilmu.