Menikah, Bukan Tentang Siapa dan Kapan

Menikah, Bukan Tentang Siapa dan Kapan

917
0
BERBAGI

Pada saatnya menikah, kita akan menikah. Bukan tentang siapa dan kapan, tapi saat Allah berkehendak dan mengizinkan.” Ucap perempuan sholihah itu di salah satu diskusi kami.

Pertanyaan “Kapan menikah?” merupakan hal yang seringkali diterimanya. Berbagai proses telah dilalui. Khauf dan Raja’ kerap berganti mengisi hati. Episode demi episode kehidupan pun menambah  panjang durasi penantian Qowam dunia dan akhiratnya.

Sesungguhnya, jika Allah telah sampaikan pada saatnya, maka tak akan ada yang mampu menundanya. Sedetik pun. Tulisan ini adalah bentuk syukur atas pernikahan saudari kami, Ustadzah Lani (Nurliani Rahma Dewi). Salah satu Dosen Akademi Keluarga (Materi “Mengajarkan Calistung pada Anak”) sekaligus Support System Kuttab Al Fatih Depok.

Kemarin, Rabu (19/11/14) adalah hari bersejarah untuk kami. Penantian panjang itu mulai mengalami kemajuan. Setelah proses ta’aruf yang memerlukan pemikiran panjang, akhirnya ditetapkan khitbah akan dilaksanakan.

Pukul 6.30, sepuluh orang dari kafilah Kuttab Al Fatih Depok dan Parenting Nabawiyyah meluncur ke kediaman Ustadzah Lani di Cikajang, Garut, Jawa Barat. Kami diminta pihak keluarga perempuan untuk mendampingi. Selain itu, pihak keluarga laki-laki langsung berangkat dari Purwakarta. Maklum, pria istimewa yang dinanti ini adalah guru (Koordinator Al Quran) di Kuttab Al Fatih Purwakarta, beliau adalah Ustadz Firdaus Azhar Syapawi.

Perjuangan cinta ini pun semakin diuji. Tanpa disangka-sangka, perjalanan yang biasanya hanya memerlukan waktu 4-5 jam, mengalami banyak hambatan. Kami baru sampai di tempat mendekati maghrib. Rupanya, di jalan antara Bandung-Garut ada demo buruh menuntut kenaikan upah yang menyebabkan macet sangat panjang. Hujan deras dan berkabut menemani perjalanan yang berkelok-kelok penuh liku, hingga pemegang kemudi kendaraan kami harus sangat berhati-hati.

Suasana boleh dingin, tapi kami mendapat sambutan yang sangat hangat dari keluarga Ustadzah Lani. Tak lama kemudian adzan maghrib berkumandang, kami pun sholat dan terus bermunajat. Setelah itu, acara inti dimulai. Ustadz Budi Ashari, Lc yang terlibat sejak proses awal menjelaskan maksud kedatangan Ustadz Firdaus untuk melamar. Menarik, ada hal di luar rencana. Ustadz Firdaus langsung menambahkan bahwa kedatangannya bukan hanya untuk khitbah, melainkan langsung akad. Sontak seluruh orang yang hadir cukup terkejut. Wali perempuan minta waktu beberapa saat untuk membahas hal ini.

Keajaiban ini begitu cepat. Perbincangan singkat itu membuahkan hasil. Keluarga perempuan sepakat untuk melaksanakan akad malam itu juga. Tanpa ditunda. Dengan persiapan yang sangat sederhana. Seperti yang telah dipinta Ustadzah Lani pada Allah Yang Maha Kuasa. Sederhana penuh berkah.

Kedua mempelai ada, wali ada, mahar ada, saksi ada, segala puji bagi Allah… akad nikah bisa dilaksanakan setelah isya.

Ustadz Firdaus mengucapkan mitsaqan ghalizanya di hadapan Ayah yang selama ini telah mendidik calon istrinya. Ikrar itu terucap merdu. Para saksi menyatakan sah. Doa penuh kekhusyuan terlantun indah. Air mata kebahagian menetes menambah haru.

Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khair.

Inilah takdir terbaik-Nya. Skenario yang telah tercatat di mega server Lauh Mahfudz-Nya. Ketika dua jiwa yang berbeda itu Allah izinkan berlabuh di satu dermaga cinta karena-Nya. Ketika dua hati itu Allah pertemukan dalam satu ikatan sakral dan suci. Malam itu status mereka berubah: suami dan istri. Tidak lagi sendiri.

Maka, nikmat Rabb yang manakah yang kan kau dustakan?

Inilah syariat Islam yang indah. Sederhana tak perlu mewah. Khusyu nan bersahaja. Menikah di jalan-Nya tidak membutuhkan banyak hal yang diada-ada.

Dan Ustadz Budi melantunkan syairnya, “Kisah tanpa skenario, walau mawar tetap mekar di penghujung musim.”

Terimakasih Ya Allah.