MUKADIMAH HAJI bag 2 (Syarat – Syarat Haji)

MUKADIMAH HAJI bag 2 (Syarat – Syarat Haji)

893
0
BERBAGI

Sub bab keempat: Syarat-syarat haji

Wajibnya haji kembali kepada lima syarat:

  1. Islam, haji tidak wajib atas kafir dan tidak sah pula melaksanakannya, karena Islam adalah syarat sah ibadah.
  2. Akal, haji tidak wajib dan tidak sah dari orang gila, karena akal merupakan syarat taklif dan orang gila tidak dibebani kewajiban, pena diangkat darinya sampai dia sadar, sebagaimana dalam hadits Ali bahwa Rasulullah bersabda,

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ: عَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنْ الصَّبِيِّ حَتَّى يَبْلُغَ، وَعَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يُفِيْقَ.

Pena diangkat dari tiga orang: dari orang tidur sehingga dia bangun, dari anak-anak sehingga dia dewasa dan dari orang gila sehingga dia sadar.[1]

  1. Baligh, haji tidak wajib atas anak-anak, karena dia tidak dibebani kewajiban dan pena diangkat darinya hingga dia dewasa berdasarkan hadits di atas, رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلَاثَةٍ”Pena diangkat dari tiga orang…” Seandainya anak-anak berhaji maka hajinya sah, walinya yang berniat untuknya bila dia belum mampu membedakan, namun tidak menggugurkan haji Islam (kewajiban haji) tanpa ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama, berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas,

أَنَّ امْرَأَةً رَفَعَتْ صَبِيًّا فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، أَلِهٰذَا حَجٌّ؟ قَالَ:نَعَمْ، وَلَكِ أَجْرٌ

Bahwa seorang wanita mengangkat seorang anak sambil berkata, Wahai Rasulullah, apakah anak ini mendapatkan haji? Nabi menjawab, Ya, dan bagimu pahala‘.”[2]

Berdasarkan sabda Nabi,

أَيُّمَا صَبِيٍّ حَجَّ ثُمَّ بَلَغَ، فَعَلَيْهِ حَجَّةً أُخْرَى، وَأَيُّمَا عَبْدٍ حَجَّ ثُمَّ عُتِقَ فَعَلَيْهِ حَجَّةٌ أُخْرَى.

Anak manapun yang berhaji dan dia belum baligh, maka dia harus haji lagi. Hamba sahaya mana pun yang menunaikan haji kemudian dimerdekakan maka dia harus haji lagi.[3]

  1. Merdeka, haji tidak wajib atas hamba sahaya, karena budak tidak memiliki apa pun, seandainya dia haji maka hajinya sah bila dengan seizin tuannya. Para ulama berijma’ bahwa bila hamba sahaya berhaji saat dia masih menjadi budak kemudian dia dimerdekakan, maka dia harus menunaikan haji Islam manakala dia mendapatkan jalannya untuk itu, haji saat dia masih budak belum cukup, berdasarkan sabda Nabi dalam hadits di atas,

وَأَيُّمَا عَبْدٍ حَجَّ ثُمَّ عُتِقَ فَعَلَيْهِ حَجَّةٌ أُخْرَى.

Hamba sahaya mana pun yang menunaikan haji kemudian dimerdekakan maka dia harus haji lagi.

  1. Mampu, berdasarkan Firman Allah

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.“(Ali Imran: 87).

Orang yang tidak mampu secara ekonomi, dia tidak memiliki bekal yang cukup untuk dirinya dan keluarga yang wajib dinafkahinya, atau tidak memiliki kendaraan menuju Makkah dan pulang kembali ke negerinya, atau tidak mampu secara fisik misalnya dia sudah lanjut usia atau sakit yang membuatnya tidak bisa berkendara dan memikul beban berat safar atau perjalanan haji tidak aman, misalnya dihadang para perampok atau wabah penyakit atau lainnya di mana jamaah haji takut terhadap jiwa dan hartanya, maka dia tidak wajib haji sehingga dia mampu.

Allah berfirman,

 

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286).

Mampu termasuk kesanggupan yang telah Allah sebutkan. Bagi wanita dikatakan mampu dalam haji yaitu ditemani mahram yang menemaninya dalam safar haji, karena seorang wanita tidak boleh safar haji dan safar lainnya tanpa mahram, berdasarkan sabda Nabi,

لَا يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ سَفَرًا يَكُوْنُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَصَاعِدًا إِلَّا وَمَعَهَا أَبُوْهَا أَوِ ابْنُهَا أَوْ زَوْجُهَا أَوْ أَخُوْهَا أَوْ ذُوْ مَحْرَمٍ مِنْهَا.

Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir untuk melakukan safar tiga hari atau lebih kecuali bersama bapaknya atau anaknya atau suaminya atau saudara laki-lakinya atau mahramnya.[4]

Juga berdasarkan sabda Nabi kepada seorang laki-laki yang berkata,

إِنَّ امْرَأَتِيْ خَرَجَتْ حَاجَّةً، وَإِنِّي اكْتُتِبْتُ فِيْ غَزْوَةِ كَذَا. قَالَ: اِنْطَلِقْ فَحُجَّ مَعَهَا.

Sesungguhnya istriku berangkat haji dan sementara aku diutus dalam pasukan perang ini. Maka Nabi menjawab, Pergilah dan berhajilah bersama istrimu.[5]

Bila seorang wanita haji tanpa mahram maka hajinya sah namun dia berdosa.

Diterjemahkan dari kitab fiqih muyassar.

By Abu Usman khatimin, Lc

[1]  Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 4401 dan Ibnu Majah, no. 2041, dishahihkan oleh al-Albani dalam Irwa` al-Ghalil, no. 297.

[2]  Diriwayatkan oleh Muslim, no. 1336.

[3]  Diriwayatkan oleh asy-Syafi’i dalam Musnadnya, no. 743 dengan penomoran as-Sindi, al-Baihaqi, 5/179, dishahihkan oleh al-Albani dalam Irwa` al-Ghalil, no. 986.

[4]Diriwayatkan oleh Muslim, no. 1340.

[5]  Muttafaq alaihi; diriwayatkan oleh al-Bukhari, no. 1862 dan Muslim, no. 1341.