Privasi Istri

Privasi Istri

222
0
BERBAGI

Sebagaimana seorang suami memiliki privasi, seorang istri pun juga memiliki privasi.

Seorang istri memiliki hak-hak privasi yang tidak boleh bagi seorang suami untuk mengintervensinya.

Selama hak-hak privasi istri tersebut tidak keluar dari ketaatan kepada ALLAH dan ketaatannya kepada suami, maka hak tersebut dilindungi.

Dari Sulaiman bin Amr bin al-Ahwash berkata, “Ayahku bercerita, bahwa beliau pernah menyaksikan haji wada bersama Rasulullah صلى الله عليه وسلم ketika itu Rasulullah menyanjung ALLAH, mengingatkan dan menasihati manusia, beliau juga mengatakan,

“Berbuat baiklah kalian kepada kaum wanita, sesungguhnya mereka disisi kalian adalah seperti rekan, kalian tidak memiliki hak lebih atas mereka selain daripada hal itu, kecuali jika mereka secara terang-terangan melakukan perbuatan nista, jika mereka melakukan yang demikian itu maka pisahkan ranjangnya darimu, dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai, jika mereka mau taat maka janganlah kalian mencari-cari alasan untuk menyusahkan mereka.

Sesungguhnya kalian memiliki hak atas istri kalian, dan istri kalian pun memiliki hak atas diri kalian. Adapun (diantara) hak kalian atas mereka ialah, agar tak seorang pun singgah ditempat privasi kalian, dan agar mereka tidak mengizinkan orang-orang yang kalian benci untuk masuk ke rumah kalian. Dan sungguh hak kalian atas mereka ialah agar kalian berlaku baik kepada mereka dengan memberi pakaian dan makanan.” [HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah]

Dalam hadits, istri diibaratkan seperti rekan ataupun partner dalam kehidupan berumah tangga, yang bermakna bahwa seorang istri memiliki hak yang harus dihargai dan dihormati, termasuk juga hak privasi.

Maka hal-hal ataupun barang-barang yang bersifat privasi milik istri, tidak diperkenankan bagi suami untuk mengambil atau mengorek-ngoreknya kecuali setelah mendapat izin dari istri.

Menghormati dan menghargai privasi istri ataupun privasi suami, sangat menunjang bagi keutuhan sebuah rumah tangga.

Dari Jabir bin Abdillah رضي الله عنه berkata, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم melarang seorang lelaki (yang baru pulang safar) untuk tidak mengetuk (mendatangi) pintu istrinya (secara tiba-tiba) pada malam hari, agar ia dapat menuduh istrinya berkhianat, ataupun ingin mencari-cari kesalahan-kesalahan mereka.” [HR. Muslim]

Secara implisit hadits diatas mengisyaratkan larangan bagi seorang suami untuk mengorek-ngorek aib dan kesalahan istri, dengan mengorek-ngorek barang-barang privasi mereka.

Terlebih barang-barang yang memang mutlak merupakan hak istri, semisal harta, uang, gaji milik istri. Sehingga tidak boleh bagi seorang suami untuk melanggar privasi istri tersebut, kecuali setelah ia mendapat izin dan ridha dari sang istri. Wallahu a’lam.