Privasi Suami

Privasi Suami

388
0
BERBAGI

Seorang manusia tentulah memiliki hal-hal ataupun barang-barang yang bersifat privasi, tanpa terkecuali seorang suami.

Sifat privasi atau kerahasiaan ini bukan hanya diberlakukan untuk orang lain, namun juga terkadang diberlakukan pula bagi istrinya.

Yang demikian itu, diakui oleh syariat.

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه berkata, “Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

“لا يحل للمرأة أن تصوم وزوجها شاهد إلا بإذنه، ولا تأذن في بيته إلا بإذنه، ….”

“Tidak boleh bagi seorang istri berpuasa (sunah) sedang suaminya mengetahuinya, kecuali setelah mendapat izin darinya. Dan tidak boleh baginya mempersilahkan orang lain masuk ke rumah, kecuali dengan izin dari suaminya…” [HR. al-Bukhari dan Muslim]

Hadits diatas menunjukan privasi seorang suami dalam memberlakukan kerahasiaan rumah tangganya pada orang lain, dan tidak boleh bagi istri melanggar privasi suami.

Dari Aisyah رضي الله عنها berkata, “Hindun binti Utbah istri Abu Sufyan رضي الله عنهما suatu saat masuk menemui Rasulullah dan berkata, ‘Duhai Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan adalah lelaki yang pelit, beliau tidak pernah memberiku nafkah yang cukup untuk diriku dan anakku, kecuali apa yang aku ambil dari hartanya tanpa sepengetahuannya. Apakah yang demikian diperbolehkan?.

Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab,

خذي من ماله بالمعروف ما يكفيك ويكفي بنيك

“Ambillah dari hartanya dengan cara yang baik, sekedar untuk memenuhi kebutuhanmu dan anakmu.” [HR. al-Bukhari dan Muslim]

Barangsiapa memahami sabda Nabi صلى الله عليه وسلم diatas dengan baik, tentulah akan mengambil kesimpulan berdasarkan mafhum mukhalafah. Bahwa asalnya tidak boleh bagi istri untuk seenaknya saja mengambil, ataupun mengorek-ngorek privasi suami, kecuali disana ada hal yang darurat, semisal mengambil haknya yang tidak ditunaikan suami.

Sehingga hal-hal yang bersifat privasi milik suami, semisal dompet, android, laptop suami, lemari khusus suami, brankas dan barang-barang ataupun perkara-perkara lain yang diklaim oleh suami sebagai privasi, tidak boleh bagi istri untuk mengorek-ngorek, mencari-cari, ataupun mengambilnya kecuali setelah mendapat izin dari suaminya.

Terlebih lagi naluri seorang wanita yang kadang senang mencari-cari kesalahan suami, berperasangka buruk terhadap suami, yang semua itu justru akan menjadikan dirinya semakin menyesal dan benci kepada suaminya.

Karena setiap manusia pastilah memiliki kesalahan, jika seorang justru dengan sengaja mencari-cari kesalahan bukan malah menutupnya, maka sudah tentu dipastikan bahwa ia akan menemukan segudang kesalahan yang telah dilakukan olehnya.

Barangsiapa yang mencari-cari aib orang lain, maka ALLAH akan bongkar aibnya, dan barangsiapa yang menutup aib orang lain, maka ALLAH akan tutup aibnya.