Ramadhan antara 2 sisi koin

Ramadhan antara 2 sisi koin

410
0
BERBAGI

*Menyambut datangnya bulan suci ramadhan, kita wajib bergembira, karena pada bulan tsb terdapat banyak janji-janji Allah subhanahu wa ta’ala, khususnya bagi orang yang berpuasa  atas dasar iman dan ihtisab (mengharap pahala), sebagaimana yang telah dikabarkan oleh utusan-Nya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Puasa adalah untuk Allah. Maka Allah yang akan membalas pahalanya secara langsung. Orang yang berpuasa meninggalkan syahwatnya, makanan dan minumannya, karena Allah. Orang yang berpuasa mendapat 2 kebahagiaan; saat berbuka dan saat berjumpa dengan Allah kelak di akhirat. Bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah ketimbang minyak wangi misk.” (HR. Bukhori-Muslim)

Ini merupakan sisi koin kegembiraan.

*Sisi koin sebelahnya adalah kewaspadaan. Karena, selain adanya kabar gembira mengenai bulan suci ramadhan, ternyata ada juga kabar buruknya.
Dalam musnad Al Bazzar disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaminkan sebuah kabar dari Malaikat Jibril ‘alaihis salam ketika berkata, “Celakalah orang yang mendapati bulan suci ramadhan, namun dia tidak mendapati ampunan-Nya sama sekali.”
Jelas celaka, karena jika pada bulan mulia saja dia tidak bisa mendapat ampunan, apalagi di bulan yang lainnya.

*Langkah-langkah menuju bulan suci ramadhan;

1. Intropeksi/cek keimanan; paling mudah adalah saat terdengar suara adzan. Jika kita merasa terpanggil, alhamdulillah itu pertanda iman masih ada. Adzan merupakan panggilan iman yang berulang-ulang setiap hari, sehingga ia bisa menjadi alat tolak ukur keimanan seseorang. Dalam ibadah puasa, yang paling berperan penting adalah iman, sehingga ia harus selalu dalam keadaan naik, bukan turun.
2. Update keimanan dengan seluruh cabangnya; iman 63/73 cabang, yang paling tinggi kalimat laa ilaaha illallaah (tentu dengan memahami dan mengaplikasikan maknanya dalam segala aspek kehidupan), dan paling rendah yaitu menyingkirkan duri atau sesuatu yang berbahaya dari jalanan umum, dan rasa malu merupakan cabang dari keimanan.
3. Berdo’a; orang-orang shalih terdahulu dalam menyambut bulan suci ramadhan, mereka berdo’a jauh-jauh hari, bahkan jauh-jauh bulan, yaitu 6 bulan sebelum datangnya ramadhan, diantara do’anya adalah
اللهم بلغنا رمضان وبارك لنا فيه
Allaahumma ballighnaa ramadhaan wa baarik lanaa fiih.
Ya Allah, sampaikanlah kami pada bulan ramadhan, dan berkahilah kami di dalamnya. #atau boleh dengan doa apa saja yang semakna.
Dan tidak lupa menyertakan banyak orang dalam do’a kita, karena setiap kali kita berdo’a untuk orang lain secara rahasia, dalam artian orang yang didoakan tidak tahu, maka ada Malaikat yang ditugaskan untuk mengaminkan do’a kita tsb, kemudian Malaikat pun mendoakan kita.
Subhanallah wal hamdulillah.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengizinkan kita, keluarga, tetangga dan kaum muslimin seluruhnya untuk memasuki bulan suci ramadhan dalam keadaan bersedia penuh semangat iman dan ihtisab.
Insyaallah semoga ramadhan tahun ini banyak memberikan perubahan bagi kita semua kaum muslimin. Aamiin.

Penulis : Ust Izzatullah Abduh