Sabar di Bidang Hubungan Sosial

Sabar di Bidang Hubungan Sosial

266
0
BERBAGI

Tidak akan sempurna kehidupan bersama manusia kecuali dengan kesabaran, mulai terhadap orang yang hidup paling dekat darimu yaitu istri, dan berakhir terhadap orang yang paling jauh darimu. Allah Subhaanahu Wata’aala telah berfirman dalam rangka menerangkan sikap yang layak dilakukan oleh seorang suami untuk bersikap sabar dalam menghadapi berbagai macam problematika kehidupan suami-istri, Allah berfirman:

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَججْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا (19)

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisaa: 19).

Maksudnya adalah: bersikap sabarlah, karena sabar akan mengakibatkan kemuliaan.

Dan Allah telah memberi wasiat kepada para hamba-Nya untuk bersikap sabar terhadap apa yang mereka temui dari manusia berupa keburukan, dan hendaknya tidak membalas perbuatan jahat dengan perbuatan jahat serupa, Allah berfirman:

وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (34) وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ (35)

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (Fushshilat: 34-35).

Di antara keadaan yang dituntut untuk bersikap sabar adalah: sikap sabarnya seorang murid terhadap pelajaran yang dipelajari dan terhadap pengajar yang mengajarnya, inilah yang telah Allah kisahkan kepada kita dalam Al-Qur’an ketika Musa pergi kepada Khidir untuk mengajari Musa tentang apa yang telah Allah ajarkan kepada Khidir, maka berkata Khidir kepada Musa, sebagaimana yang telah diabadikan dalam Al-Qur’an:

قَالَ إِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا (67) وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلَى مَا لَمْ تُحِطْ بِهِ خُبْرًا (68)

“Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu” (Al-Kahfi: 67-68).

Ayat ini menunjukkan bahwa Khidir meminta kepada Musa untuk bersikap sabar, maka Musa berkata seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an: “Insya Allah kamu akan mendapatkanku sebagai seorang yang sabar.” (Al-Kahfi: 69).